BG -- Duduk di bangku sekolah dasar, ayah
membawa saya menyaksikan event terbesar di kota Bandung hari itu:
Pertandingan sepakbola Persib Bandung. Saya tak terlalu ingat, siapa
lawan tanding Persib ketika itu. Yang saya ingat: gemuruh sorak sorai
penonton ketika Persib mencetak gol, membuat saya kehilangan tempat
duduk yang susah payah saya rebut sewaktu awal masuk.
Ada rasa penasaran dan candu pasca
pertandingan itu. Tiap Persib bertanding saya merengek kepada Ayah untuk
menyaksikan langsung di stadion Siliwangi, dan kerap dibalas dengan
jawaban bahwa pertandingan disiarkan langsung di TVRI. Tak jarang
akhirnya Ayah mengalah dan saya berhasil menatap langsung Pangeran Biru
beraksi.
Hingga bertahun-tahun kemudian saya tak
lagi butuh dampingan Ayah, keberanian untuk duduk sendiri di tribun
stadion sudah terkumpul. Jika ada teman menonton maka saya bersyukur,
berbarengan selalu menyenangkan. Tapi kalaupun tidak, saya tidak
berkeberatan, mengamati perilaku penonton selalu menjadi hiburan
tersendiri, efeknya saya tidak pernah merasa sepi di Stadion Siliwangi.
Tentulah tidak cukup apabila saya harus
mencatat tiap perilaku penonton di stadion dalam tulisan ini. Dalam
tulisan ini saya hanya ingin mencatat sebuah situasi. Situasi manakala
perempuan mengalami ketidaknyamanan ketika menyaksikan langsung
sepakbola di stadion.
Stadion: Ruang bebas Untuk Berbuat Apa Saja
Saya bukan tipe penonton sepakbola yang
selalu siap untuk berteriak, membakar semangat pemain melalui paduan
nyanyian yang ciamik. Saya lebih menikmati menjadi penonton pendiam yang
menyaksikan aksi di lapangan hijau, dan tentu: aksi dan perilaku para
penonton di sekitar.
Ketika Ayah membawa saya menonton di
stadion untuk pertama kalinya, saya hanya tercengang kala kata-kata
kotor beterbangan dengan bebas dan liarnya. Tidak seperti biasanya, Ayah
tidak menegur atau menutup kuping saya ketika kata-kata kotor
terdengar. Begitu pula orang tua lain yang membawa anaknya,
menganggapnya seperti angin lalu. Dari situ saya mulai berasumsi, bahwa
kata-kata kotor di Stadion Sepakbola adalah halal.
Baru setelah hitungan tahun menonton
langsung di stadion, saya mulai resah. Keresahan itu timbul dari
kata-kata kotor yang nyaring terdengar ketika perempuan masuk ke dalam
stadion. Raut risih dan mimik takut terpancar dari perempuan-perempuan
itu. Pelindungnya hanya pria-pria yang membawanya masuk ke stadion.
Hampir setiap pertandingan saya
menjumpai situasi seperti itu. Dari tribun ke tribun, kendati intensitas
tiap tribun berbeda, selalu ada saja situasi sejenis. Saya cuma
berceletuk dalam hati, bagaimana mungkin sepakbola di sini bisa seperti
di Inggris, keluarga dapat diboyong dan menjadi hiburan akhir pekan, dan
yang paling penting: mereka tidak diselimuti rasa takut.
Perempuan di stadion Siliwangi bukanlah
fenomena baru. Tak jarang kita menjumpai fans wanita yang menonton
sepakbola, baik ditemani pria, ataupun yang bergerombol bersama
teman-temannya. Apa yang perlu kita berikan apresiasi adalah keberanian
mereka untuk menghadapi pelecehan-pelecehan melalui kata-kata kotor.
Untuk duduk di stadion, mereka harus lolos fase tersebut, lalu terulang
kembali ketika meninggalkan stadion saat pertandingan usai.Tapi
sayangnya, tidak semua perempuan berani menghadapi itu.
Dari pelecehan tersebut juga kita bisa
melihat, bagi sebagian penonton perempuan hanya dipandang sebagai objek.
Mereka tidak dipandang seperti lelaki yang menikmati pertandingan
sepakbola, tetapi ada stereotipe yang kencang bahwa mereka tidak lebih
dari para penggembira yang tidak mengerti sepakbola. Bahkan yang lebih
miris lagi, televisi turut mendorong stereotipe tersebut dengan terus
menerus menyorot perempuan yang datang ke stadion untuk ditayangkan di
tengah-tengah jalannya pertandingan, seakan-akan kehadiran mereka adalah
suatu hal yang amat spesial.
Kultur masyarakat kita yang selalu
memandang rendah perempuan berlaku hampir di setiap tempat, khususnya di
sebuah ruang publik tempat masyarakat bertemu secara masif. Stadion
sepakbola adalah salah satu tempatnya, atmosfer “bebas melakukan apa
saja” begitu kencang, termasuk bebas yang negatif, melontarkan kata-kata
kotor yang merugikan pihak perempuan.
Stadion Gedebage dan Tribun Khusus Perempuan
Belakangan ini pecinta sepakbola di
Bandung mendapat kabar menggembirakan. Stadion Gedebage hampir rampung
sepenuhnya. Kota Bandung punya Stadion megah, tak ada lagi gaung
tuntutan Stadion Baru yang dulu kerap terdengar di seantero Stadion
Siliwangi.
Dibalik euforia stadion baru itu,
terdapat sebuah wacana brilian: Tribun khusus perempuan. Tentu tribun
ini tidak berarti semua perempuan mesti ditempatkan di sana, tetapi
untuk menyediakan jaminan bagi perempuan yang kerap khawatir jika hendak
datang menyaksikan langsung pertandingan. Bila ada perempuan yang ingin
berbaur dengan penonton lainnya di tribun lain, tentu saja tidak ada
larangan.
Tribun khusus ini memberikan ruang bagi
para perempuan untuk menikmati sebuah pertandingan. Perempuan akan
merasa kehadirannya terjamin secara keamanan, bebas dari pelecehan yang
kerap terjadi. Rasa takut, cemas, diharapkan tak lagi muncul.
Adanya Tribun khusus perempuan juga
justru dapat mendorong jumlah kehadiran perempuan di stadion. Semakin
tinggi tingkat keamanan dan kenyamanan, maka perempuan tak lagi sungkan
untuk hadir di stadion. Semakin banyak perempuan yang hadir, maka
kehadiran perempuan di stadion tidak lagi dianggap sebuah hal yang tabu.
Penonton lainnya akan melihatnya sebagai suatu hal yang biasa saja,
maka secara perlahan pelecehan melalui berbagai bentuknya pun akan
hilang.
Lagipula, tempat khusus bagi perempuan
bukanlah hal baru di ruang publik, dan sudah diterapkan di berbagai
tempat. Contoh kecilnya ialah tempat parkir mobil khusus perempuan dan
shelter khusus perempuan di dalam sebuah busway.
Sepakbola adalah permainan yang layak
dinikmati semua kalangan. Tidak memandang jenis kelamin, usia, dan yang
lainnya. Sekat-sekat yang memisahkan kalangan untuk menikmati sepakbola
mestilah dihapuskan. Bandung dikenal sebagai tempat perubahan dimulai.
Dan wacana ini mesti direalisasikan agar sebuah perubahan bagi sepakbola
indonesia pada khususnya dapat maju ke arah yang lebih baik.
Sebuah tempat yang megah tidak akan
berarti apa-apa jika tidak menjadi tempat yang bebas bagi siapapun yang
berada di dalamnya. Bebas yang positif tentunya.